Apa kabar sahabat Tito's Weblog, semoga dalam keadaan prima dalam menjalani akhir - akhir dari bulan suci Ramadhan ini. Maaf juga sebelumnya saya terkena sindrom hiatus lagi seminggu ini. Jadi sulit untuk melakukan aktivitas blogging, semoga tidak berkepanjangan. :-D
Baiklah kali ini tito mau share pengalaman dari sahabat smp, Ria Amelia namanya. Kemaren sewaktu lagi twitter-an (pilihan jejaring sosial yang bagus buat ngenet via Handphone, promosi dikit) tiba - tiba ada message dari dia. Wah jarang - jarang nih dia nge-DM pake twitter.
@reeya305: tito, wie geht es ihnen??
(nah loh gw pusing, dia pake bahasa Jerman. Mentang2 lagi kul disana, pamer deh... untung punya kamus Jerman jadi langsung ngerti) // tito, apa kabar?
@titoHeyziputra: eh ada ria, mir geht es gut. Sombong nih pake bahasa Jerman. Susah nih translatenya. // eh ada ria, kabar gw baik. Sombong nih pake bahasa Jerman. Susah nih translatenya.
@reeya305: Hahhaha sory to, Lange nicht gesehen.
(yah pake bahasa Jerman lagi, dasar nih cew... kali ini kamus klamaan langsung nyalain laptop dan buka google translate.) // Hahaha maaf to, Lama ga ketemu ya kita
Yah kira - kira gitu deh awalnya, trus karena saya udah nyalain laptop jadi lanjut ke sesi curhat pake skype deh... Itung2 reunian jarak jauh. Intinya dia cerita kalau puasa di Jerman ga se'enak yang dibayangin. Lalu saya jadi teringat satu bait kata - kata dari novel Andrea Hirata : Maryamah Karpov :
"Di Eropa, untuk kali pertama aku mendapati diriku terpojok di sudutperadaban sebagai minoritas dan sungguh pahit keadaan ini. Sepanjanghidup di Tanah Air, demografiku adalah representasi mayoritas. Akuseorang Islam, maka aku mayoritas. Keluargaku keluarga miskin, karenaitu aku juga mayoritas. Aku mayoritas karena begitu banyak hal,misalnya aku orang Indonesia asli, berbadan pendek, hetero, seringditipu politisi, menyenangi lagu dangdut, dan berwajah orangkebanyakan. Namun di Eropa, aku terkejut melihat cara orang melihatku,dan yang pertama merka lihat adalah warna kulitku, lalu merekamemandangku, dan yang mereka pandang adalah asal muasalku, carakuberbicara, apa yang kumakan, apa yang kusembah, dan apa yang seolahakan kuambil dari mereka. Seluruh pandangan padaku untuk satu tujuan:menilaiku.'"
Mungkin ini lah yang dirasakan sebagian besar teman - teman yang sedang menuntut ilmu di Negeri orang. Merasa asing dan jadi minoritas. Lebih - lebih di bulan puasa seperti sekarang, kata Ria puasa di negeri dengan 4 musim tidaklah seenak yang di bayangkan. Waktu puasanya berbeda tiap tahun tergantung musim.
Kalau lagi musim dingin puasa hanya 10 jam saja. Waktu imsak jam 06.00 dan Bedug maghrib 16.00. Nah tahun ini Bulan suci ramadhan jatuh pada musim panas. Waktu imsak pukul 03.00 dan dan waktu bedug maghrib 21.00. Kebayang ga tuh sahabat Tito's Weblog, saudara kita muslim di Jerman tahun ini berpuasa selama hampir kurang lebih 18 jam. Mereka sholat tarawih dan Isya baru pukul 23.00 dan sudah harus siap - siap lagi untuk sahur sebelum pukul 3 dini hari. Sedangkan cuaca pada siang harinya bisa mencapai 39 derajat Celcius.
Sungguh berat ibadah puasa yang mereka jalani dibandingakan kita yang berada di Indonesia dengan Negeri 2 musimnya. Iklim tropis yang bersahabat dan waktunya yang tetap. Tapi sebuah fenomena hebat terjadi loh disana. Antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan perempuan. Dan dari total 3,4 juta penduduk muslim di Jerman 15.000 diantaranya adalah orang Jerman asli.
Subhannallah ya sahabat, di negeri dengan iklim yang tidak tetap dan berubah-ubah. Islam tetap bisa didirikan dan jemaahnya makin bertambah. So kita di Indonesia tidak boleh kalah dong, kita harus menunjukan kualitas iman yang kita miliki. Di beri berkah menjadi umat mayoritas dan iklim yang bersahabat di negeri ini, harusnya kita bisa lebih maksimal ibadahnya. Tetap berjaung sampai Idul Fitri nanti ya sobat.
Remarchtito Heyziputra mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1431 H
Mohon maaf lahir dan batin
 |
| Mohon Maaf Lahir dan Batin |